Mengenal Ibn al-Haytham, Sang Bapak Optik Modern

Remisya.org, Tangerang Selatan – Di era millennium seperti saat ini, optik menjadi sesuatu ilmu yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam perjalannya, bagian dari ilmu sains ini memberikan keuntungan bagi fotografi, internet (fiber optik) hingga satelit mata-mata.

Membicarakan optik, maka tak bisa dilepaskan dari seorang ilmuwan muslim bernama Abu Ali al-Hasan ibnu al-Hasan ibnu al-Haytham atau Ibn al-Haytham saja, di dunia barat dia dipanggil Alhazen.  Dunia bahkan menyebutnya sebagai Bapak Optik.

Ibn al-Haytham seorang ilmuwan besar yang salah satu jurnalnya Kitab al-Manazir atau Buku Optik diakui sebagai rujukan ilmu optik. Maka tak mengherankan dia pun dijuluki Bapak Optik. Sejak kecil Ibnu Haitham memang dikenal cerdas. Tidak heran bila ketika dewasa, dia menjadi sarjana Muslim terkemuka.

Ia memulai kariernya sebagai pegawai pemerintah di kota kelahirannya, Basrah, Irak. Hanya saja, laki-laki kelahiran 965 Masehi ini merasa tidak nyaman bekerja dalam bidang birokrasi. Ibn al-Haytham lebih tertarik berkelana menimba ilmu.

Sang ilmuwan kemudian memutuskan pergi merantau ke Ahwaz dan Baghdad, yang kala itu termasuk pusat intelektual dunia. Di kedua tempat tersebut, ia mempelajari beragam ilmu. Tidak berhenti di sana, Ibnu Haitham melanjutkan belajar ke Mesir. Dia sempat pula mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar.

Setelah lulus, dia lalu mempelajari berbagai keilmuan secara autodidak, seperti ilmu falak, matematika, geometri, fisika, serta filsafat. Sampai akhirnya, Ibnu Haitham tertarik mengkaji segala hal mengenai ilmu optik. Banyak teori terkait ilmu optik yang dicetuskannya, salah satunya penelitiannya tentang cahaya.

“Al-Haytham tak bisa dipungkiri merupakan figur paling signifikan dalam sejarah optik di masa lalu dan abad ketujuh belas,” kata sejarahwan sains David Lindberg, yang dikutip dari Science News.

Sketsa yang dibuat oleh Ibnu Haitham tentang sistem optik manusia. Sumber gambar: fredaldous.co.uk

Dia menambahkan selain memberikan kontribusi besar untuk optik, namun Ibn al-Haytham adalah salah satu karakter berbeda dalam sejarah ilmu pengetahuan abad pertengahan. Di dalam Kitab Al-Manazir, dia adalah ilmuwan pertama yang mampu menjelaskan bagaimana cara kerja optik dalam mata manusia dalam menangkap dan menerima gambar secara visual secara detil.

Dalam menulis buku Optik ini Ibnu Haitham memang banyak terpengaruh dari Arsitotels, khususnya visi yang melibatkan penerimaan gambar eksternal. Aristoteles sendiri menunjukkan bahwa masuk akal untuk menganggap bahwa mata bisa memancarkan sinar yang mampu menjangkau semua bintang-bintang jauh.

Tapi Ibnu Haitham tidak berhenti dengan penjelasan Arsiitoles tersebut. Dia juga harus menjelaskan mengapa citra, katakanlah, gunung, bisa muat dalam bola mata manusia yang relatif kecil. Dalam hal itu, Euclid dan Ptolemy telah mendeskripsi geometris-matematis rumit tentang bagaimana sinar dari mata bisa membuat kerucut visual yang mampu mencakup gambar dari objek yang dirasakan mata.

Hampir semua teori serta hasil penelitian Ibn al-Haytham menginspirasi beberapa ahli sains Barat. Meliputi Boger, Bacon, dan Kepler yang sekarang dikenal sebagai pencipta mikroskop serta teleskop. Ia juga pernah menulis buku tentang evolusi yang sampai sekarang masih menjadi rujukan ilmuwan dunia. Buku karya Ibn al-Haytham mengenai kosmologi pun sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad pertengahan.

Sumber : https://republika.co.id/berita/pqydpy313/mengenal-ibnu-haitham-sosok-penemu-ilmu-optik https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150225111438-199-34692/ibnu-al-haytham-tokoh-islam-yang-disebut-bapak-optik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *