Sejarah Idul Adha

Idul Adha, mendengar kata tersebut pasti terbayang daging hehe..

Tahukah kalian sejarah Idul Adha? Kata Idul Adha berasal dari kata ‘id dan ‘adha. ‘Id berakar pada kata ‘aada ya’uudu’ yang memiliki arti dasar ‘menengok’ atau ‘menjenguk’ atau ‘kembali’. Disebut demikian karena hari raya terus kembali berulang setiap tahunnya. Di Indonesia, Id kerap disamakan artinya dengan ‘ayyada’, yakni ‘berhari raya’. Sedangkan kata Adha bermakna ‘qurban’.

Dengan demikian, Idul Adha berarti kembali melakukan penyembelihan hewan qurban atau kerap disebut istilah Hari Raya Qurban. Idul Adha juga dikenal sebagai ‘Lebaran Haji’. Sebab, di saat yang sama, umat Islam dari berbagai penjuru dunia juga tengah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.

Umat Islam memperingati Idul Adha setiap 10 Dzulhijjah.

Hari Raya Kurban ini terjadi bermula ketika Nabi Ibrahim AS mengalami mimpi yang terus berulang. Di dalam mimpi tersebut, Allah SWT memberikan perintah kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putra kesayangannya, yaitu Ismail.

Di saat Nabi Ibrahim AS mendapatkan mimpi untuk diperintahkan menyembelih putranya, ia sangat gundah gulana. Pasalnya, Ismail adalah anak yang patuh kepada orangtua dan perintah Allah SWT. Tetapi, karena mimpi itu Nabi Ibrahim AS seakan mengalami hal di luar dugaan.

Nabi Ibrahim AS yang tak bisa berbuat apa-apa karena maksud mimpi itu adalah perintah dari Sang Pencipta. Datanglah Nabi Ibrahim AS kepada Ismail dengan maksud menyampaikan mimpi itu, bahwa Allah SWT memerintahkan untuk menyembelih anaknya.

Allah SWT berfirman dalam QS. As-Shaffat ayat 102 yang artinya:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Sebagai bentuk ketaatan Nabi Ibrahim AS, ia memilih untuk melakukan perintah Allah SWT. Anaknya, Ismail, memintah ayahnya untuk mengikatnya dengan tali dan menajamkan pisau supaya ketika disembelih Ismail tidak meronta kesakitan. Ismail juga meminta pakaiannya diberikan kepada sang ibunda sebagai bentuk kenang-kenangan.

Apa yang terjadi? Rupanya pisau untuk menyembelih Ismail tidak dapat digunakan. Saat itu lah, Allah SWT menggantikan sosok Ismail dengan seekor kambing untuk disembelih. Hal ini tercantum dalam QS. Ash-Shaffat ayat 107 yang artinya:

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Untuk memperingati ujian Allah SWT atas Nabi Ibrahim, umat Islam pun melakukan penyembelihan daging qurban dan memberikannya kepada keluarga, tetangga, dan orang miskin.

Peristiwa ini adalah bentuk pengorbanan kasih sayang seorang ayah yang juga bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Semua pengorbanan yang dilakukan semata-mata hanya untuk menggapai cintanya kepada Allah SWT. Ismail pun meyakini bahwa perintah Allah SWT adalah yang terbaik untuknya.

Begitulah asal mula Idul Adha atau hari penyembelihan, sehingga sampai sekarang hewan untuk penyembelihan yaitu kambing, domba, sapi, unta, dan kerbau.

Sumber:

https://news.detik.com/berita/d-5115826/sejarah-makna-dan-hikmah-idul-adha-sesuai-syariat-islam

https://kumparan.com/hijab-lifestyle/awal-mula-idul-adha-1trtKWteMle#:~:text=Bagi%20umat%20Islam%2C%20Idul%20Adha%20juga%20diartikan%20sebagai%20Hari%20Raya%20Kurban.&text=Dalam%20sejarah%20Islam%2C%20Hari%20Raya,menyembelih%20putra%20kesayangannya%2C%20yaitu%20Ismail.

https://ihram.co.id/berita/qe6joe327/ini-asal-usul-idul-adha-dan-sejarahnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *