Sejarah Kekhalifahan Umar Bin Khattab

Remisya.org, Tangerang Selatan – Umar bin Al-Khattab. Mendengar nama itu, pikiran kita semua langsung tertuju kepada salah satu dari empat khalifah besar selepas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat. Umar adalah khalifah besar yang menggantikan peran Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memimpin umat Islam.

Kekhalifahan Abu Bakar berlangsung sangat singkat, hanya 2 tahun 3 bulan. Sebelum wafat, Abu Bakar menyerahkan urusan kekhalifahan kepada Umar, maka orang-orang pun membaiatnya. Abu Bakar menganggap Umar adalah orang yang paling pantas memikul tugas ini.

Di masa kekhalifahan Umar bin al-Khattab berlangsung selama 10 tahun. Masa kekhalifahan Umar merupakan masa-masa terbaik sepanjang sejarah Islam setelah wafatnya Rasulullah dan Abu Bakar ash-Siddiq.

Dikutip dari buku Inilah Faktanya karya Utsman bin Muhammad al-Khamis, Abu Bakar menganggap Umar adalah orang yang paling pantas memikul tugas ini. Oleh sebab itu, Abu Bakar memilihnya sebagai penggantinya. Kaum Muslimin kemudian membai’atnya, maka jadilah Umar salah seorang Khalifah Rasulullah SAW.

Umar menjadi khalifah pada awal teriadinya perang sengit di Syam. Ketika itu, kaum Muslimin tengah berkumpul di Yarmuk berhadapan dengan pasukan Romawi yang jumlah personilnya begitu banyak.

Meskipun demikian, kaum Muslimin memperoleh kemenangan yang gemilang pada perang tersebut. Damaskus, Himsh, Qansirin, dan Ajnadin juga dapat dibebaskan. Setelah itu, terjadi lagi pembebasan yang besar, yaitu pembebasan Baitul Maqdis. 

Kaum Muslimin pun bebas berjalan di daerah-daerah bangsa Romawi. Selanjutnya, ‘Amr bin al-Ash berangkat menuju Mesir dan membebaskannya. Sedangkan Sa’ad bin Abu Waqqash berangkat menuju ke timur, tempat negeri Persia berada. Sa’ad juga berhasil mengalahkan mereka, dan menimpakan kekalahan telak bagi mereka.

Berikutnya, terjadi Perang Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abu Waqqash. Perang ini termasuk perang yang sangat menentukan. Setelah itu, terjadilah pembebasan Khurasan. Pembebasan-pembebasan wilayah memang banyak terjadi pada zaman Umar. 

Semasa Umar menjadi khalifah, wilayah Islam tumbuh sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan Persia dari tangan Dinasti Sassanid. Selepas itu berturut-turut membebaskan Mesir, Palestina, Suriah, Afrika Utara dan Armenia dari ke Kaisaran Romawi (Byzantium).

Umar banyak melakukan perubahan yang membuat umat Islam saat itu sangat maju. Pada tahun 638 masehi, Umar memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Meski demikian, Umar memiliki kehidupan sederhana. Ia tidak mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana.

Sekitar tahun ke-17 hijriah yang merupakan tahun ke-4 ke khalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijriah. Jadilah sejak saat itu diberlakukan penanggalan hijriah menggantikan penanggalan masehi yang 500 tahun lebih tua.

Setelah kurang lebih 10 tahun memimpin umat Islam, Umar akhirnya wafat. Ia dibunuh oleh Abu Lu’luah,  seorang budak yang fanatik. Ia membunuh Umar saat akan memimpin salat subuh dengan cara menikamnya dengan sebilah pisau yang dilumuri racun selama tujuh hari.

Diketahui Abu Lu’luah adalah orang Persia yang masuk Islam setelah Persia dikuasai Umar. Banyak sejarawan meyakini bahwa peristiwa pembunuhan ini dilatarbelakangi dendam terhadap Umar. Abu Lu’luah merasa sakit hati atas kekalahan Persia yang pada masa itu merupakan negara Adidaya. Setelah Umar wafat, tampuk kekhalifahan dipegang oleh Ustman bin Affan.

Sumber : https://republika.co.id/berita/qao7an366/kekhalifahan-umar-bin-khattab-adalah-masa-islam-%20terbaik https://minanews.net/sejarah-khalifah-lebih-dekat-bersama-umar-bin-al-khattab/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *